• Home
  • Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan

    Selasa, 20 November 2012

    kisah sukses seorang pemulung sampah

    kisah nyata : kisah sukses seorang pemulung sampah

    Inilah kisah Bapak Sunarno, seorang mantan pemulung yang sekarang menjadi orang kaya berkat ketekunannya menjalankan bisnis MLM Forever Young Indonesia. Kesuksesannya menarik perhatian Rhenald Kasali sehingga Bapak Sunarno menjadi bintang tamu dalam acara SOLUSI RHENALD KASALI di ANTeve di awal tahun 2002. Tulisan ini diambil dari Majalah berWirausaha (EDISI 01/Tahun/2002, halaman 10-11) dengan judul Sunarno: *Sing Penting Niat dan Mau.* *Dulu ia mencari nafkah dengan mengais-ngais sampah. Kini ia jadi jutawan MLM karena mensukseskan orang lain. * ** *Bapak Sunarno, dalam majalah berWirausaha* Jangan sekali-kali meremehkan pemulung. Lewat bisnis MLM, pemulung pun bisa jadi jutawan. Setidaknya begitulah yang dialami Sunarno. "Saya sendiri tidak membayangkan, setelah menemukan usaha ini ternyata kok lebih cepat daripada rekan-rekan yang lebih mapan dan berpendidikan," tutur pria kelahiran Solo, 5 Agustus 1961 ini. Kesuksesan Pak Sunarno menarik perhatian Bapak Rhenald Kasali, sehingga Pak Rhenald secara khusus mengundang Pak Sunarno dalam acara SOLUSI Rhenald Kasali di ANTeve di awal tahun 2002 lalu Prestasi yang diraihnya memang paling cepat dibanding yang lain. Hanya dalam kurun 27 bulan, ia berhasil menempati peringkat Senior Network Director, posisi tertinggi di Forever Young MLM. Jaringannya kini sudah lebih dari 100 ribu orang, tersebar di seluruh Indonesia. Seiring dengan itu, penghasilan di atas Rp15 juta per bulan, sepeda motor, mobil, rumah, dan berbagai bonus wisata ke luar negeri telah dinikmatinya. *Berebut bonggol kubis* Lantaran lahir dari keluarga miskin, Sunarno hanya bisa menamatkan SD. Lebih prihatin lagi, sejak kecil ia sudah yatim piatu. Terpaksa ikut orang ke beberapa kota, jadi kacung untuk sekedar bisa hidup. Tapi itu tidak lama dilakoni. Ketika kembali ke Solo, akhirnya ia memilih profesi pemulung. Kok jadi pemulung? "Saya bosan jadi kacung yang selalu disuruh-suruh orang. Jiwa saya ingin kebebasan," jawabnya. Tinggal di daerah kumuh yang berjarak 500 meter dari tempat pembuangan sampah. Pekerjaannya mengais-ngais sampah, mengumpulkan barang bekas. Plastik dan kardus jadi incarannya. Setiap hari ia bersama teman-teman menanti datangnya truk sampah. Begitu mobil pembawa rejeki tiba, mereka berlarian mendekat, lalu berebut barang-barang bekas - siapa cepat, dia dapat. "Apalagi yang namanya balung (tulang sapi - red). Itu ibarat emas bagi kami. Nilainya tinggi kalau dijual," jelas ayah dua anak ini. Ia sendiri pernah merasa amat bahagia sewaktu mendapatkan bonggol kubil (kol). Soalnya "benda berharga" itu didapatnya setelah mengalahkan beberapa saingan. Lewat "kompetisi" yang ketat ia berhasil mendapatkannya. "Hati saya bangga dan puas karena itu suatu prestasi," katanya tersenyum. Ada satu hal lagi yang membahagiakan hatinya, yaitu saat menyetel radio tatkala masih hidup di kolong jembatan."Sayangnya tak terkira, sama bahagiannya dengan orang naik Mercy atau Volvo," tambah ayah tiga anak ini. Sinar terang perubahan hidup mulai tampak pada 1994, ketika tetangganya memperkanalkan bisnis MLM. Hampir tiap hari tetangga sebelah bercerita, walau kadang-kadang ia tidak menangkap maksudnya. Maklum cuma lulusan SD. Jangankan ngerti, untuk hafal nama MLM yang berbahasa Inggris itu saja susah banget. "Seminggu belum hafal," katanya tertawa. "Tadinya saya nggak mikirin. Tapi lantaran sering dengar dan lihat, lama-lama hafal juga." *Kuncinya keyakinan* Setelah belajar dan ditempa dalam berbagai training dan seminar, dalam hatinya timbul keyakinan. Mulailah ia menjalani bisnis MLM sepenuh hati. Pagi hari, sesuai profesi, ia cari barang-barang bekas. Siangnya, setelah mandi, pergi memprospek orang. Di usaha apa saja pasti ada tantangan. Sunarno pun begitu. Dibilang ngeyel atau mimpi, itu masih halus. Soalnya, ada yang mencercanya bagai cicak makan tiang. Namun itu tidak mengecilkan hatinya, sebab sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kompetisi dan tantangan. "Itulah yang mendorong saya untuk maju. Orang gagal itu biasanya engga mau menghadapi tantangan. Kalau engga siap mental, yang paling mudah dilakukan adalah berhenti," kata pria yang gemar bertani ini. Menurut Sunarno, kunci keberhasilannya hanya satu: keyakinan. Sebab keyakinan itu seakan-akan kenyataan. Ia tumbuh dari penguasaan materi dan belajar dari orang-orang sukses. Bila ingin sukses, bergabunglah dengan orang-orang sukses, minimal ketularan. Motivasinya dalam berusahan sederhana saja: kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa. Pasti bisa! "Sekarang usaha itu persaingannya ketat, minimal butuh modal besar. Tapi di bisnis MLM yang saya tekuni ini, sing penting niat dan mau. Nggak perlu jadi pemulung dulu kayak saya. Setelah itu, tinggal melakukan. Perlu tindakan. Itulah modal yang paling utama," tandasnya. Lucunya, dulu karena tinggal di tempat kumuh, sebagian orang belum mau menerima ajakannya. "Kalau kamu berhasil, baru saya mau ikut," kata mereka. Namun setelah berhasil, Sunarno menagih janji. Mereka menjawab, Lha iya, terang saja Pak Narno sekarang sudah berhasil kok." Jadi lagi-lagi saya yang disalahkan," katanya sembari tertawa kecil. "Itu soal mental. Semua itu kembali ke pribadi masing-masing." Bila teringat kehidupan masa lalu, Sunarno masih diliputi rasa haru. Jadi ketika dapat fasilitas rumah dari MLM, Sunarno sengaja memilih di Mojosongo, daerah yang ia huni dulu agar tidak lupa pada sejarah. Tapi bila dulu orang meremehkannya, sekarang lain, "Kalau lingkungan butuh sesuatu, saya yang lebih dulu dimintai sumbangan," ujarnya. *Ingin mengukir sejarah* Banyak sudah suka duka yang dialami Sunarno selama menjalankan MLM. Yang berkesan adalah rekan-rekan, khususnya dalam jaringannya, selalu merujuk pada latar belakangnya. "Pak Narno yang pemulung saja bisa, kok saya tidak bisa." Mereka terpacu dengan itu. Juga sewaktu dinobatkan sebagai Manager pertama kali, ia tidak mengira bakal dimintai bicara di depan umum. "Saya sangat terharu. Dengan terbata-bata saya ceritakan perjalanan hidup saya." Kehidupan itu, menurut Sunarno, ibarat tiada gelombang yang indah tanpa menerjang karang. Banyak orang mendambakan hidup aman, damai, tenteranm, bahagia dan sejahtera. Hidup seperti ini ideal sekali. "Bagi saya hidup itu sederhana saja, minimal kita punya cita-cita, yaitu sukses dalam segala bidang. Tapi untuk itu diperlukan tindakan, rencana, tujuan, komitmen, keyakinan, mengenal diri, dan cinta. Itu semua merupakan mata rantai yang tak terpisahkan." Ia mengaku, waktu kecil tidak punya cita-cita lantaran miskin. Semua dijalani saja. Cita-cita itu baru terbentuk setelah ia bergabung dengan MLM. Sunarno ingin berbakti pada bangsa dan negara. "Ukuran saya bukan penghasilan lagi. Tapi tanggungjawab kepada negara untuk menciptakan suasana yang baik lewat usaha MLM. Misi saya ingin menolong orang yang tidak punya, karena falsasah hidup untuk mengasihi dan melayani telah tertanam dalam diri saya. Falsafah dan misi itu penting dalam segala usaha." Selain itu Sunarno ingin umur panjang. Dalam arti bisa mengukir sejarah sehingga tetap dikenang walau kelak sudah tiada. Maka, dalam kamusnya tidak ada kata terlambat untuk belajar. Tiga tahun lalu bersama sang istri, ia mangambil penyesuaian SMP dan SMA. Bahkan kini ia kuliah dobel. Pagi ambil Pertanian di Universitas Pembangunan Solo, malam kuliah di Fakultas Hukum Unisri. Kok sampai dobel? "Saya tertarik di pertanian karena melihat Indonesia jauh tertinggal di bidang itu. Padalah kondisi alamnya sangat kaya. Orientasi saya adalah membudayakan pola tanam organik, dan hasil dari pertanian ini kita bisa memberikan sumbangan kepada negara. Sementara itu, saya kuliah di hukum supaya tahu mana benar dan mana yang perlu diluruskan," paparnya. Sebelum berpisah, ia berpesan kepada rekan-rekan dalam jaringannya agar tidak gampang menyerah, siap dikritik, semangat menyala-nyala, selalu berjuang, rela berkorban, dan berdoa. "Beranilah mengambil keputusan, karena keputusan itulah langkah awal sukses."
    0 komentar

    Kisah Pengusaha Sukses dengan Modal Seadanya

    Kisah Pengusaha Sukses dengan Modal Seadanya

    Nonton Kick Andy pada hari Minggu, 30 Maret 2008 di Metro TV kemarin, membuat aku tercengang. Pada episode ini, topik yang diangkat adalah mengenai kisah-kisah pengusaha sukses dengan berbekal modal seadanya. Sebagai tamu : pendiri dan pengusaha bisnis waralaba “Tela-Tela”, yang diwawancarai mengenai omsetnya sekitar (1-2 M/bulan) ck..ck.. kemudian pengusaha pakaian jadi “Ouval Research” yang masih sangat muda dgn omset diatas 1 M per bulannya, modal awalnya hanya Rp. 200.000,- itupun patungan dengan beberapa temen-temennya (salut bgt bro..plok…plok). Kemudian, pemilik jasa kurir/pengiriman paket “NCS”/”City Courier” dengan pendapatan per bulan yang fantastis. Di awal-awal usahanya sampai rela menjual cincin kawin milik istrinya. Terakhir, didatangkan bintang tamu wanita yang hebat yakni pengusaha perikanan dan sudah memiliki pesawat sebanyak 9 buah dan dalam waktu dekat jumlahnya akan menjadi 14 buah, yakni Susi Pudjiastuti dan pesawat-pesawatnya dinamai Susi Air. Tau modal pertama yang dia pakai buat merintis usaha perikanan tersebut, yakni hanya 150rb rupiah..ck..ck… dan lebih herannya, beliau pendidikan di tingkat SMA saja tidak tamat. Pengusaha satu ini memang lain dari bintang tamu yang dihadirkan disitu yang mayoritas pendidikan terakhirnya minimal Sarjana. (Maaf, tidak bermaksud memandang rendah tingkat pendidikan seseorang). Dengan keuletan dan kerja keras (yang pasti bekal kecerdasan yang sudah dibawa sejak lahir), mengantarkan istri seorang pria bule ini sukses.
    Sungguh mereka semua adalah potret pengusaha yang pekerja keras, semangat tinggi, dan tak kenal menyerah. Patut untuk dijadikan contoh.
    Dalam acara tersebut juga disertai komentar pakar dalam bidang bisnis yang berpendapat bahwa kunci kesuksesan mereka terletak pada deferensiasi pada usaha yang dijalankan serta target market yang pas dan tepat. Pengusaha-pengusaha tersebut mampu memberikan ‘sesuatu’ yang unik yang mungkin tidak bisa diberikan oleh pengusaha dengan produk sejenis. Itulah yang menyebabkan mereka bisa eksis dan sukses sampai mencapai posisi sekarang.
    Kiranya cerita-cerita semacam itu bisa memberi inspirasi, motivasi dan semangat untuk lebih berusaha karena hidup memang harus diperjuangkan. :)
    0 komentar

    Hidup Itu Indah Berwarna dan Tidak Sempurna

    Hidup Itu Indah Berwarna dan Tidak Sempurna

    Dikisahkan ada seorang wanita disebuah kota besar,dia memiliki wajah yang cantik, diwariskan peninggalan berupa harta melimpah oleh orang tuanya.Wanita ini juga memiliki IQ tinggi,bulan lalu baru menyelesaikan gelar master M.BA nya di inggris. Dia sadar sebagai wanita membutuhkan seorang pedamping yang bisa menemani perjalan hidup mengukir sejarah didunia ini.
    Mulailah ia berharap dan berdoa kepada Allah,agar ada lelaki datang tuk melamarnya. Setiap selesai shalat dia berdoa kepada Allah.Dalam doanya dia menyebutkan keinginan (kriteria) lelaki yang akan medampinginnya mengarungi kehidupan ini. ya Allah aku memohon kepada Mu, datanglah kepada ku seorang lelaki yang Pintar,ganteng,kaya,dan bisa menjadi imam bagiku .
    Tak lama setelah dia memanjatkan doanya,Allah mengabulkan permintaan doa wanita tersebut. Datanglah seorang laki-laki untuk melamar,dengan wajah tampan, Berpakaiannya necis, bahasa yang digunakanpun membuat orang tahu akan keilmuannya. Pernikahanpun dilaksanakan. Setelah usai acara walimahan, sebagaimana biasa pengantin baru mereka menikmati indahnya malam pertama. Ditengah malam siwanita tadi bangun tidak bisa tidur, karena suami nya tidur sambil medengkur
    Siwanita ngeluh kepada Allah, Ya Allah aku tidak meminta suami tidurnya medengkur,tapi kenapa engkau kirimkan dia untuk ku..?  keluhan wanita itu dijawab wahai hambaku, sesungguhnya itu sudah satu paket tidak dijual terpisah
    Hidup Itu Indah Berwarna dan Tidak Sempurna

    Hikmah;
    Saudara,mungkin kisah diatas pernah anda alami,kita berharap mendapat pedamping hidup sempurna.Namun setelah rumah tangga berjalan 3 bulan, kita mengetahui kelemahan atau kekurangan yang dimiliki oleh pasangan kita, lantas apakah kekurangan / kelemahan nya itu harus membuat rasa cinta kita hilang dan diselimuti kekecewaan?bagaimana dengan kelebihan- kelebihannya yang lain?bukankah manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan..?  Atau mungkin anda memilki seorang bahawan yang sangat anda banggakan,suatu ketika anda mendapatkan dia melakukan kesalahan disebabkan kurangnya pemahaman (kelemahan) dalam kasus itu,apakah kekurangan dia ini membuat rasa bangga anda hilang kepada nya..?
    Bagaimana jika anda mendapatkan atasan anda sedang marah-marah dan mengeluarkan kata-kata jenis nama binatang yang terdapat diragunan,apakah karena kemarahan dia yang memuncak ini, membuat anda hilang simpatik padanya? sementara anda mengenal baik,bahwa dia orang yang jujur,visioner,disiplin,dan bertangung jawab.
    Saudara,Sebenarnya kehidupan ini penuh dengan kebahagian,namun sayangnya kita sendiri yang membuatnya menjadi sedih,kurang semangat dan diselimuti kekecewaan. Diwaktu kita menemukan kekurangan pasangan kita, anda kecewa. Padahal kelebihan yang dia miliki lebih banyak dibanding kan kekurangannya, kegagalan yang dilakukan bawahan anda,tidaklah seberapa disbanding kan dengan kesuksesan yang telah diraihnya.

    Sebenarnya anda memiliki hidung yang bagus,mata yang cantik.Tapi kenapa hanya karena setitik jerawat dipipi anda membuat anda hilang percaya diri, seakan-akan wajah anda yang ada hanyalah jerawat. Setiap bercermin yang anda lihat hanya jerawat.Tapi coba anda lihat kembali alis yang anda milki,hidung yang manis,bukankah besarnya jerawat tidak seberapa dibandingkan alis anda..?
    Saudara, mulai saat ini mari kita focus untuk menikmati apa yang telah diberi.Syukuri nikmat yang berlimpah disekitar kita,kenapa kita harus terlena dengan masalah yang kecil itu,sehingga membuat hidup tidak berarti. Syukurilah, sesungguhnya dunia ini diciptakan penuh kebahagiaan dan keindahan. Sekali lagi,nikmati dan syukuri apa yang telah kita miliki maka kita akan mendapat kan kebahagian yang tiada habisnya.
    Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambahkan (nikmat) kepada mu,dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.  (Ibrahim ; 7 )
    Do It Now Or Never Forever
    0 komentar

    Hidup itu Perjalanan

    Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya.
    Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.
    Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin.
    Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."
    Hidup itu Perjalanan

    hidup adalah perjalanan

    Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan rohani dan pelayanan kita.
    Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan.
    Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok. Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? Sebulan? Setahun?
    Sepuluh tahun? 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati?
    Cuma yaitu--kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu... Jalanilah hidup yang seimbang!
    Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama:
    Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini.
    0 komentar

    Kisah Nyata Pasangan Yang Mengharukan

    Kisah Nyata Pasangan Yang Mengharukan

    Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas.
    Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku.
    Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja.
    Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku.
    Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
    Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya.

    Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah.
    Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

    Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
    Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
    Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

    Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada.
    Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu.
    Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku.
    Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna.
    Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit.
    Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.
    Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
    Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan.
    Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku.

    Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku.
    Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa.
    Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.
    Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini.
    Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga.

    Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

    Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

    Istriku tersayang,
    Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi.
    Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
    Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya.
    Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja.
    Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti.
    Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi.
    Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak.
    Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

    Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini.
    Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini.
    Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
    Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu.
    Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku.
    Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

    Terakhir kukatakan melalui surat ini ,aku tahu dan teramat tahu bahwa kamu tak pernah begitu mencintaiku, namun 1 hal yg kuingin kamu tahu bahwa cintaku padamu teramat besar melebihi kebencian mu padaku duhai istriku yang cantik.

    Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
    Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya.
    Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

    Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi.
    Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku.
    Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku.
    Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
    Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang.

    Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
    Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

    Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

    Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua.
    Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

    Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus
    0 komentar

    Kisah Nyata Tentang Ibu

    Kisah Nyata Tentang Ibu Yang Tidak Suka Dengan jejak sepatu di Karpet

    Sebuah kisah nyata... Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
    Cuma ada satu masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.
    Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu : "Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya. "Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu.Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Rumah ibu sepi dan kosong tanpa
    orang-orang yang ibu kasihi".
    Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
    "Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran disana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.
    "Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"
    Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".
    Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.
    Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita,
    sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.
    Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang : Saya BERSYUKUR;
    1.Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain.
    2.Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
    3.Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan.
    4.Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi.
    5.Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman.
    6.Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan.
    7.Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras.
    8.Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat.
    9.Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup.
    10.Untuk setiap permasalahan hidup yang saya hadapi, karena itu artinya Tuhan sedang membentuk dan menempa saya untuk menjadi lebih baik lagi.
    Sumber : Anoymous
    0 komentar

    Membangun Diri Menuju Kesuksesan Hidup

    Membangun Diri Menuju Kesuksesan Hidup

    Pada suatu hari ada seorang teman mengajak saya untuk berziarah ke satu makam. Ditengah perjalanan saya sempat bertanya padanya siapa yang hendak diziarahinya, apakah masih kerabat. Ternyata bukan. Katanya, dulu saya pernah punya hutang pada almarhum karena saya tidak bisa membayar rumah saya diambil paksa sehingga saya dan keluarga harus keluar dari rumah. Sejak itu saya berjanji untuk tidak punya hutang lagi pada siapapun.
    Berkat kejadian itu mendorong saya tidak berhutang dan bekerja keras lebih giat, alhamdulillah semua itu membuat saya sukses seperti sekarang ini. Itulah sebabnya
    saya hari ini mengajak dirimu untuk menziarahi makamnya.
    Barangkali anda selama ini berpikir peristiwa yang buruk menyebabkan orang bernasib buruk, lingkungan yang buruk membuat perilaku yang buruk juga. Dalam pandangan Psikofitrah, ilmu yang mempelajari sunatullah dalam jiwa mengatakan setiap peristiwa yang baik dan buruk akan selalu membawa kebaikan bagi mereka yang berpikir bahwa didunia ini yang ada hanyalah kebaikan. Ketika anda
    berpikir bahwa dunia yang ada hanyalah kebaikan maka hukum Alloh (sunatullah) yang ada pada jiwa kita hanyalah kebaikan. Jadi apa yang anda pikirkan seperti itulah dunia sebenarnya.
    Membangun Diri Menuju Kesuksesan Hidup
    Peristiwa yang buruk bagi orang yang berpikir baik maka menjadi kekuatan yang membangun dirinya menuju kesuksesan hidup. Tapi bagi mereka yang berpikir buruk peristiwa yang baikpun menjadi bencana
    dalam hidupnya. Itulah sebabnya hukum Alloh bekerja pada apa yang dipikirkan oleh kita. Kekuatan membangun atau kekuatan menghancurkan ditentukan oleh cara berpikir kita.
    Cerita teman diatas menunjukkan bahwa peristiwa yang buruk telah membuat dirinya menemukan kekuatan membangun, kekuatan yang membangun itulah yang menghantarkan hidupnya menuju sukses dalam hidupnya. "Mungkin jika saya tidak bertemu dengannya saya tidak menemukan kekuatan membangun yang ada pada diri saya." Katanya saat sore tiba menghantarkan saya untuk kembali kerumah.
    Wassalam, ariyanto djafar
    0 komentar

    Kamis, 22 Maret 2012

    Aspek Hukum Bank Garansi


    ASPEK HUKUM GARANSI BANK
     Oleh
    ESTHER DWI MAGFIRAH
     PENDAHULUAN
    Dalam suatu aktivitas bisnis, masalah pembiayaan menempati posisi yang signifikan. Tanpa kelancaran transaksi finansial, kinerja pelaku usaha akan mengalami hambatan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, para pihak yang terlibat dalam satu transaksi bisnis kerap kali mengikutsertakan pihak ketiga untuk menjamin likuiditas dana. Guna mengakomodasi kepentingan itulah, pelaku bisnis memanfaatkan jasa lembaga keuangan seperti perbankan.
    Salah satu jasa lembaga perbankan dalam menunjang aktivitas bisnis tersebut adalah bank garansi. Penerbitan bank garansi merupakan salah satu jasa layanan yang ditawarkan perbankan untuk membantu kelancaran dunia usaha. Jasa layanan perbankan tersebut selaras dengan amanat pasal 1 butir 2 Undang – Undang Perbankan, yang menyebutkan bahwa
    Bank umum adalah bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
    Artikel ini akan mendeskripsikan secara singkat tentang eksistensi lembaga garansi bank dalam menunjang kelancaran aktivitas bisnis. 
    GARANSI BANK
    Istilah garansi berasal dari bahasa Inggris guarantee atau guaranty yang berarti menjamin atau jaminan.
    Pasal 1 butir 1 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia (SKBI) No. 11 / 110 / Kep / Dir / UPPB tanggal 28 maret 1979 tentang pemberian Jaminan oleh Bank dan Pemberian jaminan oleh lembaga keuangan bukan Bank, menyebutkan :
    Jaminan adalah warkat yang diterbitkan oleh bank atau lembaga keuangan bukan bank yang mengakibatkan kewajiban membayar terhadap pihak yang menerima jaminan apabila jaminan pihak yang dijamin cidera janji (wanprestasi).
    Dalam garansi bank, ada tiga pihak yang terlibat yaitu :
    1.    Pihak penjamin              : pihak yang memberikan jaminan (pihak bank)
    2.    Pihak terjamin               : pihak yang dijamin (nasabah)
    3.    Pihak penerima jaminan             : pihak yang menerima jaminan
    Jadi, garansi bank merupakan suatu perjanjian tertulis yang isinya bank menyetujui untuk mengikatkan diri kepada penerima jaminan guna memenuhi kewajiban terjamin dalam suatu jangka waktu tertentu dan dengan syarat – syarat tertentu berupa pembayaran sejumlah uang tertentu apabila terjamin di kemudian hari ternyata tidak memenuhi kewajibannya kepada penerima jaminan.
    Atas pemberian garansi bank trsebut, maka bank akan menerima fee dari terjamin berupa sejumlah uang tertentu yang disebut provisi. Jumlah provisi ini dihitung atas dasar prosentase tertentu dari jumlah garansi bank untuk jangka waktu tertentu pula (Anwari, 1981 : 9)
    PERJANJIAN GARANSI
    Kesepakatan pemberian garansi bank oleh perbankan kepada terjamin dituangkan dalam suatu perjanjian yang disebut perjanjian bank garansi vide pasal 1824 KUH Perdata, pasal tersebut menentukan bahwa penaggungan (jaminan) harus ditentukan secara tegas meski tidak harus secara tertulis. Namun sebagaimana lazimnya, suatu perjanjian perbankan selalu dituangkan dalam bentuk akta tertulis untuk menjamin kepentingan hukum para pihak. Berdasarkan surat perjanjian garansi bank tersebut bank akan memberikan surat garansi bank kepada terjamin untuk diserahkan kepada penerima jaminan.
    Menurut Anwari (1981 : 26) Surat Perjanjian Garansi Bank memuat syarat minimal sebagai berkut :
    1.   Tujuan penggunaan garansi bank
    2.   Jumlah tertinggi garansi bank
    3.   Tanggal mulai berlaku serta jangka waktu garansi bank
    4.   Tempat kedudukan (domisili) terjamin dan bank
    5.    Macam jaminan lawan yang diserahkan oleh jaminan kepada bank serta nilainya
    6.   Terjamin tunduk kepada ketentuan – ketentuan dan peraturan – peraturan tentang                         pemberian garansi bank yang ditetapkan oleh bank
    7.   Terjamin tunduk kepada intruksi – intruksi dan peraturan – peraturan yang dikeluarkan       oleh pemerintah dan bank indonesia serta kelaziman perbankan
    8.   Biaya garansi bank yang harus dibayar oleh terjamin
    9.   Terjamin memberi kuasa yang tak dapat dicabut kembali kepada bank untuk sewaktu –      waktu mencairkan jaminan lawan guna melunasi hutang terjamin sebagai akibat dilaksanakannya pembayaran garansi bank maupun hutang lainnya yang timbul             sehubungan dengan pemberian garansi bank tersebut.
    SKBI No. 11 / 110 tahun 1979 tidak memberikan definisi tentang perjanjian garansi bank. SKBI tersebut hanya menentukan hal – hal minimal yang harus dipenuhi dalam satu garansi bank.
    Pasal 2 butir 2 SKBI mengatur syarat minimal dalam garansi bank sebagai berikut :
    1.   Judul garansi bank atau bank garansi
    2.   Nama dan alamat bank pemberi garansi
    3.   Tanggal penerbitan garansi bank 
    4.   Transaksi antar pihak yang dijamin dengan penerimaan jaminan
    5.   Jumlah uang yang dijamin oleh bank
    6.   Tanggal mulai berlaku dan berakhirnya garansi bank
    7.   Penegasan batasn waktu klaim
    8.   Pernyataan bahwa penjamin (bank) akan memenuhi pembayaran denganterlebih dahulu     menyita dn menjual benda – benda terjamin (nasabah) untuk melunasi hitungannya            sesuai dengan pasal 1831KUHPerdata, atau pernyataan bahwa penjamin (bank)      melepaskan bank istimewanya untuk menuntut supaya benda – benda terjamin      (nasabah) lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi hutangnya vide pasal 1832       KUHPerdata.
    Pasal 2 butir 3 SKBI menentukan hal yang tidak dimuat dalam garansi bank sebagai berikut :
    1.         Syarat – syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi untuk berlakunya garansi bank
    2.         Ketentuan bahwa garansi bank dapat diubah atau dibatalkan secara sepihak
    Sebagaimana diketahui, lembaga perbankan diwajibkan untuk bersikap selektif dalam melakukan aktivitas untuk meminimalisasi risiko. Berdasarkan prudential banking (prinsip kehati – hatian bank), dalam pemberian garansi bank, garansi harus melakukan penilaian secara seksama terhadap calon nasabah. SEBI No. 11 / 11 UPPB tanggal 28 Maret  1979, mengharuskan bank untuk :
    1.         Meneliti bonafiditas pihak yang dijamin
    2.         Meneliti sifat dan menilai transaksi yang akan dijamin sehingga dapat diberikan jaminan yang sesuai
    3.         Menilai jumlah jaminan yang akan diberikan bank
    4.         Menilai kemampuan pihak yang akan dijamin untuk memberikan kontra jaminan yang cukup sesuai dengan kemungkinan terjadinya resiko.
    Menurut Munir Fuady (1997 : 202) untuk membatasi risiko dalam penerbitan garansi bank, pihak bank mensyaratkan adanya jaminan lawan (counter garanty) yang nilainya ditentukan oleh kebijakan bank namun biasanya setara dengan nilai jaminan yang tercantum dalam garansi bank. Jaminan lawan tersebut tidak harus dalam bentuk uang tunai, melainakn bias berupa giro, deposito, surat – surat berharga, atau lainnya yang dianggap aman oleh bank



    Tabel 1
    Jumlah nilai Masing _ masing Jenis Counter Garanty
    Jumlah Jaminan Lawan
     Nilai Garansi
    1.   Uang tunai yang disetor ke bank
    2.   Dana giro yang dibekukan
    3.   Deposito
    4.   Surat – surat berharga
    5.   Barang bergerak
    6.   Barang tidak bergerak
    7.   Harta tak berwujud seperti tagihan dan hal lain    yang sifatnya serupa dengan itu
    8.   Harta kekayaan lain yang dapat diterima oelh bank
    9.   Performance bond, bid bond dan advance payment bond
    100 %
    100 %
    100 %
    100 %
    150%
    150%
    150%

    150%
    <nilai garansi bank
    Sumber : Anwari, 1981 : 23
    ASPEK HUKUM GARANSI BANK
    Sebagaimana diuraikan di atas, bahwa garansi bank diterbitkan oleh perbankan untuk meminjam pelaksanaan prestasi yang dijanjikan terjamin kepada penerima jaminan apabila terjamin tidak melakukan prestasi tersebut. Dengan demikian, lembaga garansi bank merupakan bentuk dari perjanjian penanggungan  ( borghtoch ) yang diatur dalam Buku III KUHPerdata dalam pasal 1820 – 1850 KUHPerdata.
    Pasal 1820 KUHPerdata menyebutkan bahwa :
    Penanggungan adalah suatu perjanjian dengan nama seorang pihak ketiga guna kepentingan si berpiutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatnya si berhutang manakala orang ini sendiri tak memenuhinya.
     Sebagaimana perjanjian jaminan pada umumnya, perjanjian garansi bank merupakan perjanjian assesoir ( perjanjian tambahan ) yang menyertai suatu perjanjian pokok. Perjanjian pokok yang dibuat oleh pihak terjamin dan penerima jaminan merupakan dasar dari dibuatnya perjanjian garansi bank.
    Berdasarkan ketentuan pasal 1820 – 1821 KUHPerdata, ada beberapa karakteristik dari perjanjian penanggungan sebagai berikut :
    1.         Perjanjian garansi bersifat assesoir.
    2.         Hak – hak yang terbit dari suatu garansi bersifat kontraktual bukan hak kebendaan.
    3.         Kedudukan kreditur bersifat konkuren.
    4.         Gurantor merupakan target setelah debitor.
    5.         Garansi tidak bisa dipersangkakan ( Fuady, 1997: 200 ).
    Akibat – akibat hukum yang timbul dari suatu perjanjian jaminan antara penjamin dan penerima jaminan diatur dalam 1831 – 1838 KUHPerdata sedangkan akibat – akibat hukum yang muncul antara penjamin dan terjamin ditentukan dalam pasal 839 – 1844 KUHPerdata.
    Ketentuan tentang perjanjian yang diatur dalam buku III KUHPerdata, termasuk ketentuan mengenai perjanjian jaminan ( penaggungan hutang ) dalam pasal 1820 – 1850 KUHPerdata menganut sistem terbuka. Para pihak bebas menentukan sendiri isi perjanjian diantara mereka. Peraturan dalam hukum perjanjian bersifat pelengkap yang berarti ketentuan tersebut disediakan oleh pembentuk undang – undang untuk dipergunakan oleh para pihak yang membuat perjanjian apabila ternyata mereka kurang lengkap atau belum mengatur suatu hal tertentu.
    Dalam pelaksananan perjanjian garansi bank, apabila terjamin tidak melakukan kewajibannya kepada penerima jaminan maka pihak bank yang harus menunaikan kewajiban tersebut dengan membayar sejumlah uang seperti yang tertera dalam garansi bank.
    Dengan dilaksanakannya pembayaran garansi bank kepada penerima jaminan, maka jumlah yang dibayarkan itu menjadi hutang terjamin kepada bank. Pihak bank akan segera mencairkan counter garanty yang telah diberikan terjamin untuk membayar kembali dana yang diserahkan bank kepada pihak penerima jaminan. Apabila langkah tersebut masih menyisakan hutang bagi terjamin kepada pihak bank maka terjamin harus membayar hutang tersebut dalam suatu jangka waktu tertentu. Apabila dalam durasi waktu yang telah ditentukan, terjamin tidak melunasi hutangnya maka hubungan hukum antara penjamin (bank ) dengan terjamin (nasabah) berubah menjadi hubungan kreditor dengan debitor dalam suatu perjanjian kredit biasa. Berdasarkan hal ini, maka diantara terjamin dan bank dibuat akta perjanjian kredit untuk jangka waktu yang ditentukan pihak bank.

    PENUTUP

    Kebutuhan akan likuiditas dana dalam bisnis akan sangat mempengaruhi kelancaran aktivitas usaha. Adanya kepastian pencairan transaksi kuangan dari pihak perbaankan melalui penerbitan garansi bank memberikan kontribusi yang urgen bagi kesinambungan kinerja dunia usaha.
    Eksistensi lembaga keuangan seperti perbankan dalam sistem perekonomian adalah untuk menghimpun dan menyalurkan dana dari dan untuk masyarakat termasuk kalangan dunia bisnis. Namun dalam pelaksanaannya pihak perbankan harus tetap tegas pada prinsip prudential banking untuk meminimalisasi resiko bagi pihak bank c.q dana masyarakat tanpa harus mengurangi efisiensi dan efektifitas penyaluran dana termasuk dalam penerbitan garansi bank bagi pelaku bisnis yang memerlukan fasilitas tersebut.


    DAFTAR PUSTAKA

     Ahmad Anwari, 1981, Garansi Bank Menjamin Usaha Anda, Aksara Pustaka, Jakarta.
    ______________, 1985, Himpunan Peraturan Garansi Bank, UPN, Jakarta.
    Munir Fuady, 1997, Pembiayaan Perusahan Masa Kini (Tinjauan Hukum Bisnis), Citra Aditya, Bandung.
    Subekti Dan Tjitrorosudibyo, 1992, Kitab Undang – Undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta.
    Bank Indonesia, Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia No. 11 / 110 / Kep / Dir / UPPD, 28 Maret 1979.
    Bank Indonesia, Surat Edaran Bank Indonesia No. 11 / 11 / UPPD, 28 Maret 1979.

    0 komentar